Dalam sirkulasi darah didapatkan sel darah dan cairan yang disebut plasma. Sel darah tersebut terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit (sel pembeku darah). Pemeriksaan hematologi adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui kelainan dari kuantitas dan kualitas sel darah merah, sel darah putih dan trombosit serta menguji perubahan yang terjadi pada plasma yang terutama berperan pada proses pembekuan darah.

Pemeriksaan pada sel darah meliputi kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, hematokrit, nilai eritrosit rerata (nilai NER), jumlah leukosit dan trombosit. Selain itu pemeriksaan hematologi meliputi pula hitung retikulosit, hitung eosinofil, aktifitas glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD), daya tahan osmotik eritrosit yang dikenal sebagai resistensi osmotik eritrosit, penetapan fraksi hemoglobin dalam eritrosit yang diperiksa dengan analisa hemoglobin, pemeriksaan sel lupus eritematosus (LE) serta penetapan golongan darah. Selain itu, pemeriksaan hematologi yang terpenting adalah pemeriksaan hitung jenis leukosit disertai dengan penilaian morfologi sel darah yang dapat diketahui dengan pemeriksaan gambaran darah tepi. Pemeriksaan gambaran darah tepi dapat menilai kelainan bentuk dari eritrosit, leukosit dan trombosit yang dapat menimbulkan kelainan secara hematologis.

Pemeriksaan hematologi dapat dilakukan secara manual yang memakan waktu cukup lama dan tidak menunjukkan ketelitian serta ketepatan yang baik. Akhir-akhir ini dengan perkembangan teknologi dalam bidang laboratorium, jumlah sel darah dapat dihitung dengan metoda otomatis yang disebut blood cell counter.

Di Laboratorium Klinik Utama Medika Pura pemeriksaan hematologi dilakukan dengan blood cell counter yang disertai pemantapan kualitas intra laboratorium yang ketat dengan menggunakan bahan kontrol komersial. Hasil pemeriksaan diperoleh dalam waktu singkat serta hasil dapat dipercaya karena memiliki ketelitian dan ketepatan yang tinggi. Selain itu Laboratorium Klinik Utama Medika Pura juga mengikuti pemantapan kualitas (quality control) yang dijalankan oleh Departemen Kesehatan.

  • Hematologi Rutin
  • Hematologi Lengkap
  • MCV, MCH, MCHC
  • Blood Group / Rh Factor
  • Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) adalah faktor pertumbuhan yang mempunyai fungsi sangat kompleks. Faktor pertumbuhan IGF-1 merupakan perantara terhadap hormon pertumbuhan, memicu pengambilan asam amino, sintesis protein dan utilisasi penggunaan glukosa. Faktor pertumbuhan ini diproduksi oleh hati yang membantu kerja dari fungsi endokrin. Kadar IGF-1 dalam serum meningkat pada saat pertumbuhan dan menurun setelah dewasa.

    Kortisol adalah hormon golongan glikokortikoid yang dihasilkan oleh korteks adrenal atas pengaruh adrenocorticotropic hormone (ACTH). Hormon ini mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein dan lemak ; sebagai anti inflamasi ; mempertahankan tekanan darah ; memperlambat kerja insulin dan memicu terjadinya glikogenesis di hati. Kadar kortisol di dalam darah dipengaruhi oleh waktu pengambilan, pada pagi hari kadarnya lebih tinggi dan rendah pada sore hari. Pemeriksaan kadar kortisol bertujuan untuk mengetahui fungsi korteks adrenal.

    Transferin adalah protein yang tergolong dalam fraksi beta globulin yang dihasilkan oleh hati. Transferin berfungsi mengangkut besi dari dinding usus atau cadangan besi ke sumsum tulang untuk pembentukan prekursor eritrosit dan limfosit. Kadar transferin ini meningkat bila didapatkan defisiensi besi dan menurun pada infeksi menahun, peradangan, penyakit kanker, penyakit ginjal dengan proteinuria dan penyakit kelainan hati.

    Fosfatase asam adalah enzim yang dihasilkan terutama oleh kelenjar prostat dan didapatkan dalam kadar tinggi di dalam semen. Selain itu, enzim ini didapatkan pula dalam sumsum tulang, eritrosit, limpa dan hati. Sepertiga sampai seperempat dari kadar fosfatase asam total serum dihasilkan oleh kelenjar prostat yang disebut sebagai fosfatase asam prostat yang merupakan isoenzim fosfatase asam. Kadar fosfatase asam dan fosfatase asam prostat ini meningkat terutama pada kanker prostat, sedangkan kadarnya pada hipertrofi prostat jinak normal. Setelah prostatic massage atau extensive palpation dapat meningkatkan kadar fosfatase asam. Pemeriksaan aktifitas fosfatase asam kurang bermanfaat untuk mendeteksi kanker prostat. Oleh karena itu untuk menentukan adanya kanker prostat lebih baik dilakukan pengukuran kadar Prostate Spesific Antigen (PSA).

  • HBsAg
  • Anti HCV
  • Anti HIV
  • a. Fungsi Hati
  • Total Protein - Albumin
  • Total Bilirubin - Direct
  • SCOT/AST
  • SCOT/ALT
  • Gamma - GT
  • b. Fungsi Ginjal
  • Ureum
  • Creatinine
  • Uric Acid
  • Cobain
  • Benzodiazepine
  • Barbiturate
  • Metha amphetamine
  • Amphetamine
  • THC
  • Morphine
  • Pemeriksaan serologi mempunyai hasil yang sangat bervariasi tergantung pada respon imun saat pemeriksaan laboratorium dilakukan dan lamanya kelainan yang dialami penderita.

    Pemeriksaan serologi adalah pemeriksaan yang menggunakan serum seperti pemeriksaan pada dugaan demam dengue. Demam dengue dapat merupakan infeksi pertama kali yang disebut infeksi primer dan dikenal sebagai demam dengue, serta infeksi kedua kali yang disebut infeksi sekunder yang dapat menimbulkan penyakit demam berdarah yang dikenal sebagai Dengue Haemorragic Fever (DHF). Penyakit ini dapat berlanjut dengan renjatan dan berakhir dengan kematian. Pada demam dengue, pemeriksaan serologi yang tersedia adalah pemeriksaan antigen NS-1, antibodi dengue IgG dan IgM.

    Pemeriksaan antigen NS-1 dengue dapat dilakukan pada hari pertama sampai hari kesembilan dari demam baik pada infeksi primer maupun infeksi sekunder, sehingga antigen NS-1 ini merupakan pemeriksaan dini untuk mengetahui adanya infeksi dengan virus dengue. Pada infeksi primer didapatkan kadar antibodi IgM setelah hari ke 4 - 5 demam dan antibodi IgG akan timbul setelah hari ke 14 demam dan bertahan dalam jangka waktu yang lama. Pada infeksi sekunder, antibodi IgG akan timbul lebih dahulu yaitu 1 – 2 hari setelah gejala demam timbul dan antibodi IgM akan timbul pada setelah hari ke 5 – 10 demam. Pemeriksaan antibodi terhadap virus Chikungunya IgM dilakukan terhadap pasien demam dengan gejala pusing, sakit kepala, nyeri sendi dan ruam berwarna merah pada kulit. Untuk memastikan perlu dilakukan pemeriksaan antibodi terhadap virus Chikungunya IgM. Bila hasil negatif sebaiknya diulang 2 – 4 hari kemudian.

    Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan yang bertujuan mengetahui adanya demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A,B,C. Pemeriksaan Widal sering menunjukkan reaksi silang dengan kuman yang berasal dari usus sehingga pemeriksaan ini tidak bersifat spesifik. Untuk mendeteksi infeksi dengan Salmonella typhi yang spesifik dapat diperiksa Salmonella typhi IgM.

    Pada infeksi lambung yang disebabkan oleh kuman Helicobacter pylori yang dapat menyebabkan radang, tukak lambung dan dapat menimbulkan keganasan. Oleh karena itu adanya infeksi dengan kuman Helicobacter pylori dapat diketahui dengan pemeriksaan antibodi terhadap H.pylori IgG-IgM.

    Penyakit infeksi lain yang banyak di Indonesia adalah infeksi dengan parasit Entamoeba histolityca yang dapat menyebabkan perdarahan usus bahkan dapat menimbulkan kerusakan dinding usus (perforasi). Pasien yang diduga pernah mengalami infeksi dengan parasit tersebut dapat diketahui dengan pemeriksaan antibodi IgG terhadap amoeba.

    Terhadap penyakit tuberculosis (TBC), khususnya yang telah menyebar di dalam tubuh dapat diketahui dengan pemeriksaan antibodi terhadap kuman tuberculosis.

    Untuk penyakit syphilis yang disebabkan oleh Treponema pallidum dapat dilakukan pemeriksaan VDRL/TPHA. VDRL adalah pemeriksaan yang tidak spesifik tetapi cukup sensitif untuk penyakit syphilis. Tetapi pada beberapa penyakit seperti TBC, kusta, frambusia dapat menimbulkan hasil positif palsu. Sedangkan syphilis stadium dini dan syphilis stadium lanjut sering menghasilkan reaksi negatif palsu. Untuk membuktikan seseorang pernah kontak dengan kuman Treponema pallidum dilakukan pemeriksaan serologi TPHA yang menguji adanya antibodi spesifik terhadap kuman Treponema pallidum.

    Chlamydia trachomatis adalah bakteri Gram negatif yang hidup intraseluler. Infeksi dengan bakteri ini dapat menimbulkan non-gonorrheal urethritis, lymphogranuloma venereum, trachoma, neonatal pneumonia dan sindrom Reifer's. Penyakit terbanyak yang ditimbulkan oleh bakteri ini adalah non-gonorrheal urethritis. Empat puluh persen (40%) kasus non-gonorrheal urethritis disebabkan oleh infeksi bakteri Chlamydia, 70% kasus pada wanita menyebabkan infeksi endoserviks dan 50% pada lelaki timbul urethritis asimptomatik. Pemeriksaan untuk mengetahui adanya infeksi dengan bakteri C. trachomatis dapat dilakukan dengan mendeteksi antibodi atau antigen C. trachomatis. Pemeriksaan dengan antibodi terhadap C. trachomatis menggunakan serum atau plasma. Antibodi C. trachomatis ada 2 macam yaitu golongan IgG dan IgM. Deteksi antibodi C. trachomatis IgM mempunyai banyak kelemahan karena antibodi IgM tidak selalu timbul pada infeksi akut demikian juga dengan antibodi IgG. Antibodi IgG dapat menimbulkan hasil positif palsu bila terdapat faktor rheumatoid dalam darah yang mengganggu reaksi pada pemeriksaan.

    Virus measles menyebabkan penyakit demam akut pada anak yang sangat menular. Penyakit ini ditandai oleh radang selaput lendir saluran napas atas disertai ruam pada kulit. Penyakit ini disertai komplikasi radang paru, telinga dan otak. Pada telinga dapat menyebabkan hilang pendengaran dan pada wanita hamil infeksi virus Measles dapat mengakibatkan abortus spontan, kematian janin dan cacat kongenital. Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik dan antibodi IgM terhadap virus Measles di dalam serum pada keadaan akut dan antibodi IgG setelah penyembuhan karena antibodi IgG ini bertahan dalam waktu yang cukup lama atau akibat vaksinasi.

    Infeksi virus Mumps dalam keadaan akut dapat menimbulkan radang kelenjar liur (parotitis), radang selaput otak (meningitis) dan radang pada testis (orchitis). Untuk memastikan adanya infeksi akut diperiksa antibodi IgM terhadap virus Mumps dan infeksi masa lampau diketahui dengan memeriksa antibodi IgG. Antibodi IgG terhadap Mumps mungkin didapatkan setelah imunisasi 12 – 24 bulan.

  • Widal
  • TPHA
  • VDRL
  • Pemeriksaan urin merupakan pemeriksaan penyaring yang dipakai untuk mengetahui adanya kelainan di dalam saluran kemih yaitu dari ginjal dengan salurannya, kelainan yang terjadi di luar ginjal, untuk mendeteksi adanya metabolit obat seperti zat narkoba dan mendeteksi adanya kehamilan. Pemeriksaan urin meliputi pemeriksaan makroskopik, mikroskopik/sedimen dan kimia urin. Pada penyakit ginjal dapat diketahui adanya kerusakan ginjal, saluran kemih seperti infeksi, radang, adanya trauma atau keganasan. Kelainan yang terjadi di luar ginjal juga dapat dideteksi dengan pemeriksaan urin, seperti adanya diabetes melitus (DM) dapat diketahui dengan pemeriksaan glukosa urin, hepatitis dengan memeriksa adanya bilirubin dalam urin; perdarahan saluran kemih dapat pula diketahui terutama yang belum terlihat warna merah dalam urin yang disebut mikrohematuria. Dengan adanya penyalahgunaan obat akhir-akhir ini dapat diketahui hasil metabolit obat narkotika di dalam urin.

    Di Laboratorium Klinik Utama Amanah Medika Pura, pemeriksaan urin meliputi pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik menggunakan flowcytometer serta pemeriksaan kimia urin dilakukan dengan menggunakan chemistry urine analyzer yang menggunakan metoda otomatik. Dengan menggunakan metoda otomatis akan didapatkan hasil pemeriksaan yang teliti, tepat dan cepat. Alat otomatis ini dilengkapi dengan pemantapan kualitas intra laboratorium menggunakan bahan kontrol komersial yang menjamin hasil pemeriksaan teliti dan tepat. Selain itu hasil pemeriksaa urin dikontrol melalui program pemantapan kualitas laboratorium klinik yang diselenggrakan oleh Departemen Kesehatan dan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik.
    × How can I help you?